TUGAS
PERENCANAAN ELEMEN
MESIN
PERANCANGAN
PEMBUATAN MESIN PEMECAH KEMIRI DENGAN KAPASITAS 20 KG PER JAM
Oleh:
Muhammad
Ali Assobuni
NIM
: F1C 012 066
PRODI S1 TEKNIK MESIN REGULER PAGI
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Tuahan Yang Maha Esa , karena berkat rahmat dan anugrah -NYA sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Perencanaan
dengan judul “ PERANCANGAN PEMBUATAN
MESIN PEMECAH KEMIRI DENGAN
KAPASITAS 20 KG PER JAM ”. Penyusunan
laporan Perencanaan ini dilakukan guna
untuk menyelesaikan Tugas Studi
Perencanaan Elemen Mesin. Dalam
kegiatan penulis untuk menyelesaikan Laporan Perencanaan ini, penulis telah banyak mendapat bantuan berupa
bimbingan, arahan dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu maka dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar -besarnya
kepada Ibu Nurchayati.,ST.,MT. Sebagai Dosen Pembimbing Asistensi dan
rekan-rekan yang telah membantu.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna adanya, karena masih banyak
kekurangan baik dari segi ilmu maupun susunan bahasanya. Oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi menyempurnakan laporan
ini. Akhir kata bantuan dan budi baik
yang telah penulis dapatkan,
mengucapkankan terima kasih dan hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat
memberikan limpahan berkat yang setimpal. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dan bagi penulis sendiri tentunya.
Mataram,
13 Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................ ii
DAFTAR ISI ................................................................................ iii
DAFTAR
GAMBAR ................................................................. iv
DAFTAR TABEL ................................................................................ v
BAB I : PENDAHULUAN ................................................................. 1
A.
Latar Belakang ........................................................................... 1
B.
Tujuan
Perencanaan.............................................................. 1
C.
Manfaat
Perencanan .................................................................. 1
D.
Sistematika
Penulisan ............................................................... 1
E.
Batasan Masalah ............................................................... 2
BAB II : LANDASAN TEORI ....................................................................... 3
A.
Macam-macam
Sistem pemecah kemiri ............................... 3
B.
Tahapan-Tahapan
Dalam Perancangan................................... 4
C.
Bagian
Utama Mesin.................................................................... 6
D.
Dasar
Perencanaan Elemen Mesin............................................ 8
BAB III : ANALISA
PERHITUNGAN ELEMEN MESIN DAN PERAWATAN MESIN........ 20
A.
Daya
Motor Penggerak............................................................ 20
B.
Sistem
Transmisi Sabuk Dan Puli......................................... 21
C.
Dimensi
Hopper..................................................................... 22
D.
Dimensi
Rol Pemecah......................................................... 23
E.
Poros................................................................................ 24
F.
Dimensi Bantalan............................................................ 25
G.
Mainenance...................................................................... 27
BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN......................................... 29
A.
Kesimpulan...................................................................... 29
B. Saran.................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA..................................................................... 30
LAMPIRAN..................................................................................... 31
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1
Latar Belakang
Kemiri
merupakan salah satu rempah-rempah yang menjadi bahan dalam proses industri
makanan dan kosmetik. Sebelumnya proses pemecahan kulit kemiri dilakukan secara
manual . Untuk itu dibuatlah mesin pemecah kemiri untuk mempermudah dan mempercepat proses tersebut
agar dapat meningkatkan efisiensi kerja dengan harapan mesin dapat mencapai
efisiensi tinggi berupa hasil buah yang sempurna dan terpisah dengan baik dari
kulitnya.
Cara
memecahkan kemiri berawal dari cara manual yang kemudian diaplikasikan menjadi suatu mesin dengan gesekan
yang hampir sama secara konstan dan kontinu. Ada berbagai macam metode yang
dipakai untuk memecahkan kemiri dengan kapasitas yang besar tetapi dengan hasil
yang baik.
1. 2
Tujuan Perencanaan
·
Sebagai
syarat untuk menyelesaikan tugas Perencanaan Elemen Mesin
·
Mengaplikasikan
Ilmu yang didapat selama perkuliahan yang digunakan dalam perencanaan alat pemecah kemiri
1. 3
Kegunaan Perencanaan
·
Mengetahui
Proses kerja dari Alat Pemecah Kemiri
·
Sebagai media
untuk mengenal atau
memperoleh kesempatan untuk melatih diri dalam melaksanakan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan
1. 4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dilakukan sebagai
berikut :
·
Bab I
berisi tentang latar belakang, batasan masalah, perencanaan dan tujuan
pembuatan mesin pemecah kemiri
·
Bab II
berisi tentang landasan teori proses pemecah kemiri dan pemilihan mekanisme
sebelum perencanaan
·
Bab
III berisi tentang perencanaan mesin pemecah kemiri beserta elemen-elemen mesin
·
Bab IV
berisi tentang kesimpulan dan saran
1. 5 Batasan Masalah
·
Sistem pengoperasian alat pemecah biji kemiri
·
Turunan standar persamaan elemen mesin
1. 6
Gambar Alat
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1
Macam-macam Sistem pemecah kemiri
sebagai
berikut :
2.1.1
Pemecah dengan Dipukul
Memecah kemiri dengan dipukul adalah cara yang paling mendekati dengan cara manual yang biasanya dilakukan
yaitu dengan memukul kemiri secara langsung
dengan suatu gerakan
baik rotasi maupun
translasi. Memecah dengan gerakan
rotasi dimana terdapat rol pemukul yang bergerak rotasi merupakan suatu mekanisme yang lebih baik daripada menggunakan manual ditinjau dari segi efisiensi waktu,
kapasitas dan faktor pekerja. Sama seperti
mekanisme pemecah biji-bijian lainnya, mekanisme pemecah ini yaitu berupa
sebuah rol pemecah dengan pasangannya dimana setiap rol pemecah dan pasangannya mempunyai beberapa gigi.
Untuk menghasilkan energi
kinetik maka rol harus berputar dengan kecepatan tertentu sehingga energi tersebut lebih besar daripada
ketangguhan kulit kemiri, dengan kulit dari biji kemiri baru dapat pecah. Kelebihan dari sistem ini adalah
karena dapat didesain dengan dimensi yang kompak
dibandingkan dengan sistem yang
lain meskipun mempunyai kapasitas yang sama. Syarat biji kemiri sebelum
masuk kedalam sistem pemecah
ini adalah harus dikeringkan terlebih dahulu atau didinginkan sampai temperature ± -4 ˚C agar
membantu didalam proses lepasnya kulit kemiri
dengan buahnya setelah dipecahkan. Kekurangan
dari mekanisme ini adalah biji kemiri harus dipilah terlebih dahulu dengan ukuran yang sama besar, karena adanya
penyetelan celah antara rol pemukul dengan pasangannya.
2.1.2
Pemecah dengan Dijatuhkan
Pemecah dengan dijatuhkan adalah
merupakan salah satu mekanisme lain
di dalam pemecah biji kemiri. Cara ini juga mengatasi rendahnya kapasitas suatu proses produksi. Mekanisme ini berupa suatu bucket
elevator yang membawa kemiri dengan jumlah
tertentu sampai dengan ketinggian tertentu
kemudian dijatuhkan tanpa ada gaya awal (hanya gaya gravitasi) hingga kemiri jatuh ke suatu alas yang keras.
Pecahnya kulit kemiri karena ada
energi potensial yang dihasilkan karena kemiri jatuh dari ketinggian tertentu. Syarat awal dari mekanisme ini adalah
kemiri harus didinginkan terlebih
dahulu sampai ± -4 ˚C sampai dengan -6
˚C. Kekurangan dari mekanisme ini
adalah mempunyai dimensi
yang paling besar
diantara mekanisme yang lain
meskipun mempunyai kapasitas yang sama. Sedang kelebihannya adalah karena
kemiri tidak harus
dipilah berdasarkan ukurannya.
2.1.3
Pemecah dengan Dilempar
Mekanisme
ini adalah untuk mengantisipasi besarnya dimensi mesin pemecah dengan mekanisme dijatuhkan yaitu
dengan pemberian gaya awal pada kemiri
sehingga kemiri menubruk
suatu dinding hingga
pecah. Pemberian gaya awal
pada kemiri adalah memberi kecepatan awal dengan cara
melontarkannya, sehingga kekurangan
dari mekanisme ini
adalah kapasitas yang tidak
terlalu besar dibandingkan dengan mekanisme yang lain karena adanya peletakan kemiri yang terbatas pada
sayap pelempar agar mendapatkan
hasil yang maksimal
dan dimensi yang
lebih kompak
dibanding mekanisme denagn
dijatuhkan. Syarat kemiri sebelum dipecah adalah kemiri harus didinginkan terlebih dahulu sampai
±-4˚ sampai dengan-6˚C.
2.1.4
Pemecah Dengan Dirol
Memecah dengan
cara ini sama
dengan cara menekan.
Kemiri dimasukan kedalam
celah rol dengan lebar tertentu dengan kecepatan putar tertentu sehingga menghasilkan gaya tekan ke
kulit kemiri. Pecahnya kulit kemiri disebabkan karena besar gaya tekan lebih
besar daripada kekerasan permukaan kemiri.
2.2
Tahapan-Tahapan Dalam Perancangan
Hasil pertama dari sebuah rancangan mesin tidaklah pernah
sempurna. Langkah demi langkah
harus dijalani sebelum hasil yang ideal tercapai. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan lanjut sebuah rancangan
mesin mencapai taraf tertentu adalah : hambatan yang
timbul, cara mengatasi efek samping
yang tidak terduga, kemampuan untuk memenuhi tuntutan pemakaian dan
kemampuan untuk mengatasi
saringan, hal mana
akan memperlancar pengembangan itu sendiri.
Dalam mendesain tidak mungkin mengingat semua pokok-pokok utama secara
serentak. Secara bertahap
mengumpulkan pokok-pokok utama
dan pengalaman-pengalaman. Menurut G.
Neimann ada beberapa tahapan dalam perancangan, yaitu :
1. Mula pertama, tugas desain yang bagaimanakah
harus dipenuhi ? Faktor-faktor
utama apa yang sangat menentukan untuk konstruksi ? Bahan-bahan,jumlah produk, cara produksi, bahan setengah
jadi manakah yang patut dipertimbangkan.
2. Menentukan ukuran-ukuran utama dengan
perhitungan kasar.
3. Menentukan alternatif-alternatif dengan
sketsa tangan.
4. Memilih bahan. Bahan-bahan umumnya yang mudah
didapat dipasaran seperti baja karbon
diprioritaskan pemakaiannya.
5. Bagaimana memproduksi. Konstruksi dan cara
pembuatan elemen-elemen tergantung dari jumlah
produk yang akan dihasilkan.
6. Mengamati desain secara teliti. Setelah
menyelesaikan desain berskala, konstruksi diuji berdasarkan pokok-pokok utama
yang menentukan dengan cara yang teliti. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan
adalah:
a. Perubahan sebuah
pokok utama dapat
mengubah desain secara menyeluruh.
b. Mengubah konstruksi sebuah desain
sebelum diproduksi adalah jauh lebih
menghemat waktu bila dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dilakukan
waktu atau setelah produksi berjalan.
c. Hasil konstruksi
yang matang biasanya
dicapai setelah dilakukan bermacam-macam
desain dan perbaikan-perbaikan.
d. Konstruksi yang terbaik
merupakan hasil kompromi dari berbagai ragam tuntutan
para pemakai.
7. Merencanakan
sebuah elemen; gambar kerja bengkel (workshop
blue print).
Pokok-pokok utama yang harus diperhatikan dalam meneliti gambar
kerja
adalah sebagai berikut :
adalah sebagai berikut :
a. Ukuran: apakah elemen tersebut lengkap dan
jelas ukurannya ? Apakah ukuran-ukuran tersebut sudah termasuk bagian yang terpotong dalam proses
pembuatan ?
b. Toleransi dan
simbol pengerjaan
c. Nama bahan dan jumlah produk
d. Apakah desain ini mengikuti standar dan norma
yang berlaku ?
e. Keterangan
mengenai metode-metode khusus pengerasan
(hardening), celup dingin (quenching), pelapisan permukaan, semprot pasir (sand blastin) dan sebagainya yang akan dialami elemen-elemen
tersebut.
8. Gambar lengkap dan daftar elemen. Setelah
semua ukuran-ukuran elemen dilengkapi, baru dibuat gambar lengkap dengan daftar
elemen-elemen.
2.3
Bagian Utama Mesin
Rancangan mesin pemecah kemiri
yang dimaksudkan adalah rancangan bagian utama mesin, rancangan bentuk dan dimensi yang ditetapkan
berdasarkan beberapa pertimbangan
diantaranya kemudahan dalam
pengoperasian, bahan teknik yang tersedia dan kekuatan bahan yang digunakan.
Bagian utama mesin adalah bagian yang sangat penting dalam mendukung fungsi mesin. Hal ini dapat dirinci sebagai berikut :
2.3.1
Kerangka
Mesin
Kerangka mesin terbuat dari besi siku,
kerangka mesin berfungsi sebagai
tempat dudukan mesin dan bagian lain yang diatasnya. Jika kerangka sebuah mesin tidak kuat kemungkinan besar akan mempengaruhi kinerja mesin, maka dalam perancangan mesin pemecah kemiri ini kerangka mesin yang dipakai terbuat dari besi siku 30 x 30, dengan ketebalan 2 mm.
tempat dudukan mesin dan bagian lain yang diatasnya. Jika kerangka sebuah mesin tidak kuat kemungkinan besar akan mempengaruhi kinerja mesin, maka dalam perancangan mesin pemecah kemiri ini kerangka mesin yang dipakai terbuat dari besi siku 30 x 30, dengan ketebalan 2 mm.
TAMPAK SAMPING
TAMPAK DEPAN
Gambar 2.1
Rangka mesin
2.3.2
Corong
Masuk
Berfungsi sebagai pengarah bahan baku agar tepat jatuh pada rumah screw
press. Dalam memasukan buah kemiri kedalam corong masuk sebaiknya
dilakukan secara bertahap untuk menghindari penumpukan bahan baku
pada saluran pemasukkan yang dapat menggangu kinerja mesin. Corong
masuk terbuat dari besi plat dengan ketebalan 2 mm yang terletak pada
bagian puncak mesin.
Gambar 2.2
Corong Masuk
2.3.3 Poros
Dan Ruang Rol Pemecah Kemiri
Untuk menggerakkan dan
mentransmisikan daya biasanya
digunakan poros.
Didalam merencanakan poros ada beberapa kriteria yang harus dimiliki poros diantaranya poros harus tahan
terhadap puntiran, lenturan dan
lendutan. Screw Press digunakan untuk mengepress buah kemiri agar kemiri lepas dari kulitnya.
TAMPAK
DEPAN
Gambar
2.3Poros dan Rol Pemecah Kemiri
2.3.4 Corong
Keluar
Setelah buah kemiri dipress maka kemiri akan keluar melalui corong pengeluaran. Corong pengeluaran terbuat dari
plat aluminium dengan ketebalan 2 mm.
Gambar2.4 Corong
Keluar
2.4
Dasar Perencanaan Elemen
Mesin
2.4.1
Perencanaan Daya Motor
|
Usaha Kerja Waktu
|
|
2 π n/60
|
atau, P = T. ( Sularso, Elemen
Mesin, hal:7 )
Dimana : P = Daya yang diperlukan (watt)
T
= Torsi (N.m )
ω = Kecepatan sudut ( rad / s )
n = Putaran motor (rpm )
Maka daya rencana : Pd = P. f c
Dimana : Pd = Daya rencana ( Watt )
P = Daya yang diperlukan (Watt
)
F c = Faktor
koreksi
2.4.2
Perencanaan Poros
Poros adalah salah satu elemen
mesin terpenting. Penggunaan poros antara lain adalah meneruskan tenaga poros penggerak, poros penghubung dan sebagainya. Definisi poros adalah sesuai
dengan penggunaan dan tujuan penggunaannya. Dibawah ini terdapat beberapa
definisi dari poros :
·
Shaft, adalah poros yang
ikut berputar untuk memindahkan daya dari mesin ke mekanisme lainnya.
·
Axle, adalah poros yang tetap tapi
mekanismenya yang berputar pada poros tersebut. Juga berfungsi sebagai
pendukung.
·
Spindle,
adalah poros pendek terdapat pada mesin perkakas dan mampu/sangat aman terhadap momen bending.
·
Line
shaft (disebut juga “power transmission shaft”) adalah suatu poros yang langsung berhubungan dengan
mekanisme yang bergerak dan
berfungsi memindahkan daya motor penggerak ke mekanisme tersebut.
·
Flexible
shaft, adalah poros yang berfungsi memindahkan daya dari dua mekanisme dimana perputaran poros
membentuk sudut dengan poros lainnya. Daya yang
dipindahkan relative kecil.
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam perencanaan poros antara lain :
2.4.2.1
Kekuatan poros, suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau bending ataupun kombinisi antara
keduanya. Kelelahan tumbukan
atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil atau bila poros memiliki alur pasak.
2.4.2.2 Kekakuan poros, meskipun poros memiliki kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau defleksi puntirannya
terlalu besar akan mengakibatkan
ketidaktelitian atau getaran dan suara. Oleh karena itu
selain kekuatan, kekakuan
poros harus diperhatikan dan disesuaikan
dengan macam mesin yang akan dilayani poros tersebut.
2.4.2.3
Putaran kritis, adalah bila putaran suatu mesin dinaikan
maka pada putaran tertentu akan
terjadi getaran yang
besar. Sebaiknya direncanakan putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritis.
2.4.2.4
Korosi, bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeller dan
pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif.
2.4.2.5
Bahan poros, poros untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja yang ditarik dingin dan difiris. Poros yang
dipakai untuk putaran tinggi
dan beban berat umumnya terbuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang tahan terhadap keausan.
2.4.2.6 Macam-Macam Poros
Poros untuk meneruskan
daya diklasifikasikan menurut
pembebanannya sebagai berikut :
2.4.2.6.1
Poros
Transmisi, Poros macam
ini mendapat beban
puntir murni atau
lentur. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui
kopling roda gigi, puli sabuk atau sproket, rantai dan lain -lain.
2.4.2.6.2
Poros
Spindel, Poros transmisi yang relatif pendek,
seperti poros utama mesin perkakas, dimana
beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus
kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
2.4.2.6.3
Poros
Gandar, Poros seperti yang dipasang diantara roda-roda
kereta barang, dimana tidak mendapat
beban puntir, bahkan
kadang-kadang tidak boleh berputar, disebut gandar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecuali jika digerakkan oleh penggerak mula
dimana akan mengalami beban puntir juga.
2.4.2.7
Bahan Poros
Poros untuk umumnya biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin
dan difinis, baja karbon konstruksi (disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari
ingot yang di- “ kill ” ( baja yang
dideoksidasikan dengan ferosilikon dan dicor ; kadar karbon terjamin) (JIS G3123). Meskipun demikian bahan ini
kelurusannya agak kurang
tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang
misalnya bila diberi alur pasak, karena ada tegangan sisa didalam terasnya. Tetapi penarikan dingin membuat
permukaan poros menjadi keras dan kekuatannya bertambah besar. Untuk mengetahui jenis baja karbon yang
sering dipakai untuk poros dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. JIS G3123
Batang baja karbon difinis dingin (sering
dipakai Untuk poros )
Didalam perancangan mesin pemecah kemiri ini
bahan poros yang
dipakai adalah dengan menggunakan bahan S50C, karena jenis ini digunakan untuk konstruksi umum, dengan kekuatan tarik (σ )menjelaskan macam-macam jenis baja karbon cor.
dipakai adalah dengan menggunakan bahan S50C, karena jenis ini digunakan untuk konstruksi umum, dengan kekuatan tarik (σ )menjelaskan macam-macam jenis baja karbon cor.
Sumber: (Sularso;
elemen mesn;, hal: 330)
Poros berfungsi untuk
memutar piringan penumbuk. Untuk itu poros harus direncanakan mampu untuk menahan
beban-beban yang dialami oleh poros tersebut. Diameter poros harus juga diperhitungkan terhadap beban-beban
yang akan dialami poros. Maka
perencanaan diameter poros dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan-persamaan berikut :
|
16.TÎ .ds3
|
Supaya konstruksi aman maka Ï„ izin (Ï„a) ≥ Ï„ timbul
(kg/mm2)
dimana : ds
= Diameter poros (mm)
T = Torsi
(kg.mm)
τa =
Tegangan izin (kg/mm2)
Jika P adalah daya nominal output dari motor
penggerak (kW), maka
berbagai faktor keamanan bisa diambil, sehingga koreksi pertama bisa diambil
berbagai faktor keamanan bisa diambil, sehingga koreksi pertama bisa diambil
Tabel 2.3. Faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan
|
Daya yang Akan
Ditransmisikan
|
fc
|
|
Daya rata-rata yang
diperlukan
|
1,2 - 2,0
|
|
Daya maksimum yang
diperlukan
|
0,8 - 1,2
|
|
Daya normal
|
1,0 - 1,5
|
Sumber: (Sularso;Elemen Mesin; Hal: 7)
Untuk menghitung Torsi T (kg.mm) dapat dihitung dari daya perencana (kW) sebagai berikut :
T = 9,74. 105 Pd/n1
Dimana : T = Momen Puntir rencana ( kg.mm)
Pd = Daya rencana (watt )
n = Putaran motor ( rpm)
Tegangan geser yang diizinkan
: τa= σ B/Sf1xSf2 ( Sularso, Elemen Mesin, hal: 8 )
Dimana : Ï„a = Tegangan geser izin ( kg/mm² )
σ B = Kekuatan tarik ( kg/mm²
)
Sf
1= Faktor keamanan untuk baja
karbon, yaitu 6,0
Sf 2=
Faktor keamanan untuk baja karbon dengan alur
pasak dengan harga 1,3-3,0
Dari
persamaan diatas diperoleh rumus untuk menghitung diameter poros :
Kt = Faktor Koreksi
untuk Momen Puntir
= 1,0 (Jika beban halus)
= 1,0 - 1,5 (Jika terjadi sedikit kejutan
atau tumbukan)
= 1,5 - 3,0 (Jika beban dikenakan dengan
kejutan)
Cb = Faktor
lenturan
= 1,2 - 2,3 (jika tidak ada beban lentur
maka Cb = 1)
T
= Momen Puntir
2.4.3
Perencanaan Sabuk Dan Puli
Sebagian besar transmisi
sabuk menggunakan sabuk-V
karena mudah penggunaannya dan harganya murah, tetapi sabuk
ini sering terjadi slip sehingga tidak dapat
meneruskan putaran dengan perbandingan yang tepat.
gambar 2.5 diberikan berbagai proposi penampang sabuk-V yang umum dipakai.
Gambar 2.5
Ukuran penampang sabuk-V
(Sularso:Elemen
Mesin:Hal 164)
Sabuk
digunakan untuk mentransmisikan daya motor kebagian poros. Pemilihan sabuk dan puli dilakukan agar tidak
terjadinya kehilangan gaya-gaya yang
ditransmisikan. Untuk mengetahui diameter puli digunakan rumus:
( Sularso,Elemen
Mesin, hal:166 )
Dimana : N1
= Putaran poros penggerak (rpm )
N2 = Putaran poros yang digerakkan
(rpm)
dP = Diameter puli penggerak
(mm)
DP = Diameter poros yang
digerakkan (mm)
Untuk menghitung panjang keliling sabuk digunakan :
Jarak Sumbu Poros adalah :
Dimana : b = 2L - 3,14
(DP + dP)
Ket : L =
panjang keliling sabuk (mm)
C = jarak sumbu poros (mm)
C = jarak sumbu poros (mm)
2.4.4
Perencanaan Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak balik dapat
berlangsung secara halus, aman, dan panjang umur. Bantalan harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik.
Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik maka prestasi seluruh sistem akan menurun atau tidak dapat bekerja
secara semestinya. Jadi bantalan dalam permesinan
dapat disamakan peranannya dengan pondasi
pada gedung, bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
2.4.4.1
Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros
2.4.4.1.1
Bantalan
Luncur.
Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur
antara poros
dan bantalan karena
permukaan poros ditumpu
oleh permukaan bantalan dengan perantara pelapisan
pelumas.
2.4.4.1.2
Bantalan
Gelinding.
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam
melalui elemen gelinding seperti bola (peluru), rol atau rol jarum dan rol
bulat.
2.4.4.2
Atas dasar arah beban terhadap poros
2.4.4.2.1
Bantalan
Radial. Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu poros.
2.4.4.2.2
Bantalan
Radial. Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros.
2.4.4.2.3
Bantalan
Gelinding Khusus. Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros.
Bantalan yang digunakan untuk mesin tepung beras ini adalah
bantalan gelinding. Bantalan
gelinding mempunyai keuntungan dari segi gesekan gelinding yang sangat kecil
dibandingkan dengan bantalan luncur.
Gambar 2.7.
Sket bantalan
Bantalan
berfungsi sebagai dudukan poros dan untuk mendukung poros akibat gaya tegangan sabuk dan beban yang diberikan
terhadap poros. Beban radial bantalan dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan :
Fe=x.
V.Fr+y.Fa (Joseph
E.Shigley, Perencanaan Teknik Mesin, hal: 58)
Ket
: Fe = Beban radial ekivalen (
N )
Fr = Beban radial yang bekerja ( N )
Fa = Beban aksial yang
bekerja ( N )
V =
Faktor rotasi
X = Faktor radial
Y = Faktor aksial
X = Faktor radial
Y = Faktor aksial
Maka beban nominal dinamis spesifik ( C ) dapat dihitung dengan
rumus:
Dimana : C = Beban nominal dinamis spesifik
L = Umur bantalan
L = Umur bantalan
W = Ekivalen beban dinamik
K = 3, untuk bantalan peluru
10/3, untuk bantalan rol
K = 3, untuk bantalan peluru
10/3, untuk bantalan rol
2.4.5
Baut
Baut disini
berfungsi sebagai pengikat
untuk dudukan pada
motor penggerak tetapi
selain itu berfungsi juga untuk pengikat poros terhadap puli. Jika momen rencana dari poros adalah
T (kg.mm) dan diameter poros adalah ds (mm), maka
gaya tangensial F (kg) Pada permukaan
poros adalah :
Tegangan geser yang ditimbulkan adalah :
Dimana : τk
= Tegangan geser yang terjadi (kg/mm2)
d = Diameter luar baut (mm)Tegangan geser izin didapat dengan :
Dimana : Sfk 1 = Faktor keamanan (umumnya
diambil 6)
Sfk 2 =
Faktor keamanan
= 1,0-1,5 (jika beban
dikenakan perlahan-lahan)
= 1,5-3,0 (jika beban
dikenakan tumbukan ringan)
= 2,0-5,0 (jika beban
dikenakan secara tiba-tiba dengan tumbukan berat)
Dari tegangan geser izin, panjang pasak yang diperlukan dapat
diperoleh dengan :
Gaya
keliling F (kg) yang sama seperti diatas dikenakan pada luas permukaan samping pasak. Maka tekanan permukaannya adalah :
Dimana : P =
Tekanan permukaan (kg/mm2)
t = kedalaman baut pada
poros (mm)
dari harga tekanan permukaan yang di
izinkan, panjang pasak yang diperlukan dapat dihitung dengan :
Dimana : Pa = Tekanan permukaan izin
(kg/mm2)
BAB III
ANALISA PERHITUNGAN ELEMEN MESIN DAN PERAWATAN MESIN
3.1
Daya Motor Penggerak
Motor
merupakan pusat dari gerakan dalam keseluruhan sistem, maka dari ada itu harus diperhatikan dan diperhitungkan dengan teliti dan
benar agar sistem yang kita rancang dapat berjalan sesuai dengan yang kita
harapkan.
Diketahui daya elektro motor =
750 Watt
Diketahui putaran elektro motor =
1400 rpm
Maka untuk perhitungan torsi didapat :
3.2
Sistem Transmisi Sabuk Dan Puli
Sistem transmisi
pada mesin pemecah kemiri adalah dengan puli, dengan putaran motor 1400 rpm. Data-data pada mesin yang dirancang :
1.
puli motor penggerak Ø 3’’ ( 76,6 mm)
2.
puli pada screw press Ø 10’’ (
254,4 mm)
Dengan mengabaikan slip pada sabuk maka jumlah
putaran pada masing-masing puli adalah sebagai
berikut :
Dimana
: d1 = diameter puli
penggerak
n n1 = putaran puli
penggerak
d2 = diameter puli
yang digerakkan
n2 = putaran puli
yang digerakkan
Putaran puli pada screw press adalah :
Diameter puli
diatas merupakan (dk) diameter
luar puli, maka
untuk menentukan diameter nominal puli (dp) adalah :
dp = dk1−t=254,4−11=243.4mm
dp2=76,6−11=56,6mm
Kecepatan linear sabuk dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
Jarak poros rencana diambil 2 kali diameter puli besar, maka
Panjang sabuk rencana (L)
dapat dihitung sebagai berikut :
Dimana untuk b =
2 ×1490,53 − 3,14(243,4 + 76,6)=4020,4mm
Menurut Sularso, Elemen
Mesin
3.3
Dimensi Hopper
Mesin pemecah kemiri
didesain dengan operator 1 orang saja, sehingga dimensi Hopper harus semaksimal mungkin dapat merampung biji kemiri yang ada. Untuk itu akan dicari luasan volume dari kemiri dan Hopper.
Data awal :
·
Kapasitas
: 20 kg/jam
·
Diameter
maksimal kemiri : 3 cm
·
Kemiri
diasumsikan berbentuk bola
·
Berat
1 buah kemiri adalah 10 gr
·
Untuk
memenuhi kapasitas, harus dilakukan 2x peruangan ke dalam hopper.
Perhitungan volume biji kemiri :
,jadi volume 1 buah biji kemiri adalah 14,14 cm3 Untuk
20kg kemiri :
,volume total untuk 20 kg kemiri adalah 34 lt.
Tetapi karena hopper didesain untuk 4x penuangan maka hopper
tidak boleh lebih kecil dari 8,5 lt.
Desain hopper :
TAMPAK DEPAN
TAMPAK SAMPING
Gambar 4.2 Dimensi Hopper
Keterangan :
a = panjang atas = 22 cm
b = lebar atas = 22 cm
c = tinggi = 20 cm
b = lebar atas = 22 cm
c = tinggi = 20 cm
d = panjang bawah = 15 cm
e = lebar bawah = 9 cm
e = lebar bawah = 9 cm
A =
luasan atas
= a
x b
= 484 cm2
B =
Luasan bawah
= d
x e
= 135 cm2
3.4
Dimensi Rol Pemecah
Rol pemecah
didesain berdasarkan kapasitas yang ada sehingga jumlah gigi yang dipakai untuk memecah cukup 10 buah.
Desain rol pemecah :
D = diameter luar rol = 10,2 cm
d = diameter dalam rol = 10 cm
l = panjang rol = 19 cm
TAMPAK
DEPAN
TAMPAK
SAMPING
Gambar 4.3 Dimensi Rol Pemecah
Sehingga massa rol pemecah ;
m = 7380.[0,25Ï€ .(0,1022 -0,12 )0,19]
m = 0,4 kg
Untuk
gigi pemecah didesain :
Panjang
= 19 cm
Lebar = 1 cm
Tebal = 1cm
Sehingga massa 10 buah gigi adalah :
m = 10.7830.(0,01.0,01.0,19)
m = 1,48 kg
Dengan begitu massa total rol pemecah :
= 0,4 kg + 1,48 kg
= 0,4 kg + 1,48 kg
= 1,88 kg
3.5
Poros
Analisa Kekuatan Poros Pada
Motor Poros pada motor penggerak berdiameter
24 mm. Bahan poros diperkirakan dari
baja karbon S30C dengan kekuatan tarik (σB )=
48 kg/mm2 maka σa adalah
:
Torsi kg/mm2 adalah :
Tegangan geser yang timbul :
3.6
Dimensi
bantalan
Dalam mesin ini
bantalan yang digunakan adalah bantalan gelinding. Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari
gesekan gelinding yang sangat kecil bila dibandingkan
dengan bantalan luncur.
Bila diketahui gaya radial dari poros sebesar 529,7 (N).
Maka momen geser bantalan dapat ditentukan sebagai berikut :
Mt
= F.f .(D/
2)
Dimana : Mt = Momen geser bantalan ( N.mm)
F = Gaya radial ( N )
f = Koefisien geser bantalan = 0,0015 untuk bola
bantalan tunggal
D = Diameter poros (mm)
Maka :
Mt = 529,7 x 0,0015 x (24/2) = 9,53
N.mm
Akibat gaya gesek yang timbul maka akan menyebabkan sebagian daya
akan turut hilang. Maka besar daya yang hilang adalah :
P loss = Mt
x N (2Ï€/60)
Dimana : P
loss = Daya hilang (Watt)
Mt
= Momen geser bantalan (N.mm)
N = Putaran poros (rpm)
Maka : Ploss = 9,53 x 1400 (2Ï€/60)
= 1396,4 watt
Beban ekivalen yang dialami pada bantalan adalah :
Fe = X.Fr + Y.Fa
Dimana : Fe
= Beban radial ekivalen (N)
X = Faktor radial = 0,6
Fr= Beban
radial yang bekerja (N)
Y = Faktor aksial = 0,5
Fa
= Beban
aksial yang bekerja (N)
Bila beban aksial (Fa), maka :
Jadi beban ekivalen yang dialami pada bantalan adalah :
Fe
= 0,6. 592,7 + 0,5 .185,71
Fe = 66135,04 N
Bila diasumsikan kehandalan bantalan yang
bekerja sebesar 95 % dengan pemakaian
direncanakan selama 1800 jam, maka dapat ditentukan umur bantalan yang digunakan sebesar :
Dimana : R = Kehandalan
Bantalan ( R = 0,95)
L = Umur bantalan yang direncanakan
L10=
Umur penilaian bantalan
Maka :
Maka umur bantalan yang dapat dipergunakan sebesar 3332,34 jam.
3.7
Maintenance
3.7.1
Pengertian Dan Tujuan Utama
Perawatan
Untuk dapat mencapai jumlah produksi
yang maksimum maka perlu sekali
dibutuhkan kesiapan mesin yang digunakan seoptimal mungkin. Agar mesin dapat
siap pakai dan tidak mengganggu dalam sistem produksi maka diperlukan suatu
cara yang disebut pemeliharaan. Suatu mesin tidak mungkin tidak mengalami
kerusakan, tetapi usia kegunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan
kegiatan perawatan.
dibutuhkan kesiapan mesin yang digunakan seoptimal mungkin. Agar mesin dapat
siap pakai dan tidak mengganggu dalam sistem produksi maka diperlukan suatu
cara yang disebut pemeliharaan. Suatu mesin tidak mungkin tidak mengalami
kerusakan, tetapi usia kegunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan
kegiatan perawatan.
Perawatan dapat
diartikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk memelihara dan menjaga setiap
komponen-komponen mesin atau peralatan agar dapat tahan lama sehingga dapat mencapai hasil
produksi yang maksimum.
Tujuan utama sistem perawatan adalah sebagai berikut :
Tujuan utama sistem perawatan adalah sebagai berikut :
1. Agar
mesin ataupun peralatan yang digunakan dalam keadaan siap pakai secara optimal untuk menjamin kelancaran proses kerja mesin.
2. Untuk memperpanjang usia dari pada mesin.
3. Untuk menjamin keselamatan operator dalam
menggunakan mesin atau peralatan.
4. Untuk
mengetahui kerusakan mesin
sedini mungkin sehingga
dapat mencegah kerusakan yang lebih fatal.
Perawatan
yang dilakukan terhadap
mesin pemecah kemiri
ini dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
1.
Perawatan
secara rutin
Perawatan dilakukan secara terus menerus, misalnya setiap hari atau setelah selesai menggunakan/memakai mesin.
Pada mesin ini kegiatan perawatan
secara rutin yang dilakukan adalah pembersihan dan pelumasan pada bagian yang
berputar.
2.
Perawatan
secara periodik
Perawatan secara periodik adalah kegiatan yang
dilakukan dalam jangka waktu
tertentu. Misalnya seminggu sekali, sebulan sekali, dan setahun sekali. Pada mesin ini, kegiatan perawatan secara periodik adalah
tegangan sabuk, poros rol pemecah. Sehingga
mesin pemecah kemiri ini dapat bekerja secara optimal.
3.7.2
Perawatan Bagian-Bagian Utama Mesin
Perawatan utama yang dilakukan pada
bagian-bagian utama mesin adalah sebagai
berikut :
3.7.2.1 Puli dan Sabuk
Bagian yang
memerlukan perawatan pada
puli adalah memeriksa ke-kencangan
baut pengikat puli, mengecek secara visual kesejajaran antara puli. Periksa tegangan sabuk serta kerusakan yang
terjadi pada sabuk, apabila sabuk
sudah rusak sebaiknya diganti dan apabila tegangan sabuk kendor maka
harus dikencangkan kembali.
3.7.2.2 Poros
Untuk
poros, kegiatan perawatan
yang dilakukan adalah
memeriksa keseimbangan terhadap
bearing (bantalan).
3.7.2.3 Bantalan/Bearing
Lakukan pengecekan pada bantalan, jika
bantalan sudah aus harus diganti walaupun
belum mencapai umur jam kerja. Hal yang
sangat penting terhadap perawatan bantalan adalah mengenai pelumasan, karena pelumasan pada bantalan untuk
mengurangi gesekan dan tingkat
keausan antara elemen
gelinding dan rumah
bantalan, mereduksi panas yang terjadi akibat gesekan, dan
mencegah korosi. Cara pelumasan yang dipakai
disini dengan pelumasan grease/gemuk. Pada
bantalan ini dianjurkan dengan cara manual karena konstruksinya lebih
sederhana dan semua
gemuk yang bermutu
baik dapat memperpanjang
umur bantalan. Pemberian
gemuk dilakukan dengan mengisi bagian dalam bantalan
secukupnya.
BAB V. KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Bedasarkan perhitungan dan perencanaan yang dilakukan maka
hasil kesimpulanya sebagai berikut
:
4.1.1
Spesifikasi Perencanaan
4.1.1.1 Material yang digunakan Buah
Kemiri
4.1.1.2 Kapasitas mesin 20
kg / jam
4.1.1.3 Sistem transmisi Sabuk
dan Puli
4.1.2 Konstruksi alat
4.1.2.1 Daya motor 1
Hp
4.1.2.2 Putaran motor penggerak 1400
rpm
4.1.2.3 Putaran poros screw press 421
rpm
4.1.3 Sistem
transmisi
4.1.3.1 Sistem transmisi Sabuk
dan Puli
4.1.3.2
Ukuran puli 10"
diporos rol pemecah dan 3" diporos motor penggerak
4.1.3.3 Panjang sabuk 1490,53
mm
4.1.4 Poros dan bantalan
4.1.4.1 Diameter poros rol pemecah 25 mm
4.1.4.2 Bantalan poros Bantalan gelinding No.
6205
4.2
Saran
4.2.1
Lakukan inspeksi
mesin sebelum dan sesudah pengoperasiannya.
4.2.2
Saat awal
menghidupkan mesin diharapkan tidak diberikan beban.
4.2.3
Memperhitungkan kekuatan mesin dan komponen mesin untuk memastikan mesin bekerja dalam keadaan maksimal.
4.2.4
Sewaktu mengadakan pembersihan, pembongkaran serta
pemasangan komponen mesin
ini, pastikan motor terbebas dari arus
listrik.
DAFTAR
PUSTAKA
Khurmi, R.S dan Gupta, JK. A Text Book of
Machine Design. New Delhi Eurasia Publishing House (prt) Ltd. 1980.
Niemenn, G, 1994. Elemen Mesin. Surabaya: Erlangga.
Sularso dan Kiyokatsu Suga, Dasar Perencanaan
dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradnya Paramita: Jakarta, 1994.
Shygley, Joseph E; 1986; Perencanaan Teknik
Mesin jilid 1 & 2; Jakarta;
Erlangga.
Erlangga.
Sitinjak. K, Dkk, 1995. Teknologi Pasca Panen.
Medan: Universitas Sumatera
Utara.
Utara.
Teknologi Tepat Guna. Menteri riset dan teknologi.

















knp rumus kecepatannya tidak ada mas?
BalasHapus